BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai makhluk
Tuhan yang berakal, manusia merupakan satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh
Allah swt, dengan segala kelebihan dibanding makhluk lain baik secara fisik
maupun psikis, jasmani maupun rohani. Dari segi lahiriah ia mempunyai postur
tubuh yang tegak dan anggota badan yang berfungsi ganda sedangkan dari segi
rohaniah ia mempunyai akal untuk berfikir sekaligus nafsu untuk merasa, akal
mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sedangkan untuk merasakan
keindahan, keenakan serta merasakan yang lain. Keduanya tidak bekerja secara
berpisah, melainkan saling memberi pertimbangan.[1]
Dengan adanya
akal manusia akan dapat berpikir. Proses berpikir biasanya bertolak dari
pengamatan indera atau observasi empirik. Proses itu dalam pikiran menghasilkan
sejumlah pengertian dan sekaligus keputusan atau simpulan. Kegiatan berpikir
itu sendiri sangat diperlukan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa
tersebut. Kegiatan berpikir yang logis harus diikuti bahasa yang logis pula,
agar informasi yang disampaikan penutur dapat tersampaikan secara logis pula.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian dari manusia yang berakal ?
2.
Bagaimana
proses lahirnya pemikiran-pemikiran manusia?
3.
Ada
beberapa tingkatan pemikiran pada manusia?
4.
Bagaimana
ilmu perspektif islam?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui kehidupan manusia yang berakal.
2.
Mengetahui
proses pemikiran-pemikiran oleh manusia.
3.
Mengetahui
tingkatan-tingkatan pemikiran pada manusia.
4.
Mengetahui
ilmu pengetahuan dari sudut pandang islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Manusia Sebagai Makhluk yang Berakal
Manusia adalah
salah satu makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki karakteristik
yang khas. Untuk memahami siapakah manusia itu? Maka, manusia harus dikaji
sebagai obyek yang menyeluruh dan mendalam, yaitu dengan memahami potensi
kehidupan yang mempengaruhi kehidupannya.
Sedangkan akal
bagi kehidupan manusia, tidak termasuk dalam potensi kehidupan manusia. Sebab,
manusia masih dapa hidup meskipun akalnya hilang. Seperti orang gila, atau anak
kecil yang akalnya belum sempurna. Namun akal merupakan kelebihan yang
diberikan pada manusia, yang dengan akal itulah mampu membedakan antara manusia
dengan makhluk lainnya.[2]
1. Kebutuhan
Jasmani
Kebutuhan
jasmani merupakan kebutuhan yang paling mendasar, merupakan hasil dari kerja
struktur organ tubuh manusia. Apabila kebutuhan mendasar tersebut tidak terpenuhi,
maka struktur organ tubuhnya akan mengalami kerusakan.
Jasmani yang
sehat akan dicerminkan dengan penguasaan salah satu keterampilan yang
dibutuhkan dalam mencari rizki, seperti yang disimbulkan dalam kisah Nabi Musa
a.s ketika diambil menantu Nabi Syu’aib bahwa syarat yang harus ada adalah kuat
fisiknya dan dapat dipercaya mentalnya. Firman Allah:
“salah seorang dari dua wanita itu berkata: “Ya
bapakku ambilah iya sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya
orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang
yang kuat lagi dapat dipercaya”[3]
2. Naluri
Allah SWT
menciptakan potensi kehidupan pada diri manusia berupa naluri. Naluri pada
manusia terdiri dari:
a.
Naluri
beragama (Gharizatut Taddayun)
b.
Naluri
mempertahankan diri (Gharizatul baqa)
c.
Naluri
melangsungkan keturunan (Gharizatun nau’)
Kebutuhan Naluri
(Al-Gharizah) jika tidak dipenuhi
tidak sampai mengakibatkan kematian tetapi hanya menimbulkan perasaan gelisah
saja pada diri manusia.
Naluri beragama
(gharizatut taddayun). Penampakan
mendorong manusia untuk mensucikan sesuatu yang mereka anggap sebagai wujud
dari Sang Pencipta, maka dari itu dalam diri manusia ada kecenderungan untuk
beribadah kepada Allah SWT, perasaan kurang, lemah dan membutuhkan.
Naluri mempertahankan
diri (gharizatul baqa). Penampakannya
mendorong manusia untuk melaksanakan berbagai aktifitas dalam rangka
melestarkan kelangsungan hidup. Berdasarkan hal ini maka manusia mempunyai rasa
takut, keinginan menguasai, cinta pada bangsa dan lain-lain.
Naluri
melangsungkan keturunan (gharizatun nau).
Penampakannya akan mendorong manusia melangsungkan jenis manusia. Sebagai
penampakan dan naluri ini, manusia memiliki kecenderungan seksual, rasa
kebapakkan, rasa keibuan, cinta pada anak-anak, cinta pada oang tua, cinta pada
orang lain dan lain-lain.
3. Akal
Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk
yang sempurna, hal ini dikarenakan manusia memiliki akal yang tidak dimiliki
oleh makhluk lainnya. Dengan akal yang dimiliknya telah mengangkat kedudukan manusia
sekaligus menjadikannya makhluk yang paling utama.
Dengan demikian, merupakan kesalahan besar apabila
membahasa tentang akal kemudian berkesimpulan bahwa akal adalah organ berbentuk
fisik yang berada dalam otak, kepala ataupun dada, dengan dalil bahwa hati ada
di dada. Sebab fakta membuktikan bahwa hewan juga memiliki hati yang ada di
dalam dada, namun tetap saja hewan tidak mempunyai akal. Sebagian besar kelakuan
manusia dikuasi oleh akalnya, sedankan hewan oleh naluri (insting)nya. Dngan
akalnya manusia menguasai alam (free
mastery of nature) sehingga bisa hidup dimanapun, sedangkan hewan hanya
pada tempat tertentu saja.[4]
Oleh karena
itu, akal merupakan kekuatan menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang
sesuatu. Dan kekuatan ini bukan merupakan kerja satu organ tubuh manusia saja
seperti otak, sehingga akal dianggap sama dengan otak.
B. Proses
Lahirnya Pemikiran Manusia
a.
Rasa
Ingin Tahu Manusia
Dengan potensi akal yang dimiliknya maka manusia
berusaha untuk memahami akan berbagai fenomena alam yang terjadi. Dan lahirnya
pemikiran manusia itu berawal dari rasa ingin tahu yang dimiliki oleh manusia.
Rasa ingin tahu pada manusia boleh dikatakan tidak akan pernah berhenti, karena
selalu muncul keinginan untuk menambah pengetahuan. Hal ini juga menjadi
perbedaan antara manusia dengan hewan, pengetahuan manusia makin hari makin
bertambah luas dan berkembang, sedangkan hewan sampai pada batas tertentu.
Manusia memiliki pembagian kerja yang matang, sedangkan pada hewan tidak.
Rasa ingin tahu itupula yang mendorong manusia untuk
melakukan sesuatu demi menemukan jawaban atas berbagai persoalan yang muncul di
dalam pikirannya. Upaya yang dilakukan manusia adakalanya berhasil namun juga
bisa gagal. Akan tetapi kegagalan yang ada pada umumnya justru semakin memicu
untuk melakukan lebih keras lagi sampai berhasil.
b.
Tahapan
Pemikiran Manusia
Bagaimana sesungguhnya proses berfikir pada manusia?
Jika kita telah lebih lanjut akan kita dapati bahwa untuk dapat berpikir
membutuhkan beberapa komponen :
1)
Fakta,
manusia membutuhkan fakta yang dijafikan objek berfikirnya.
2)
Indera,
untuk dapat menyerap fakta-fakta yang akan dipikrkan. Seperti mata untuk
melihat, peraba, pendengaran dan indera yang lain.
3)
Otak,
merupakan organ yang berfungsi untuk menerjemahkan setiap fakta yang diserap.
4)
Informasi
sebelumnya. Tanpa informasi, manusia tidak dapat memahami fakta yang sedang
dihadapinya.
C. Tingkatan
Berpikir Pada Manusia[5]:
a.
Berpikir
dangkal
Yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses
berpikir yang hanya melihat sesuatu dan membuat kesimpulan dan berkenaan dengan
sesuatu itu tanpa disertai pemahaman. Pemikiran ini diperoleh dengan cara
sekedar mengindera fakta kedalam otak tanpa mengaitkan dengan informasi apapun.
Juga tidak disertai dengan usaha untuk mencari informasi yang lain yang
berkaitan dengannya.
b.
Berpikir
Mendalam
Adalah tingkatan berpikir yang lebih tinggi dari
berpikir dangkal, berupaya untuk lebih mendalam memahami fakta dan mendalam
mengaitkan dengan informasi. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang untuk
mencari informasi yang lebih banyak lagi.
c.
Berpikir
Cemerlang
Adalah berpikir mendalam itu sendiri ditambah dengan
segala sesuatu yang ada di sekitar fakta dan yang berkaitan dengan fakta untuk
bisa sampai pada kesimpulan yang benar.
D. Ilmu
Pengetahuan Perspektif Islam
perintah membaca Al-Qur’an yang merupakan ayat
pertama yang turun merupakan pintu awal mencari dan membahas ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an mengajak dan mengajarkan kepada seluruh
manusia untuk senantiasa berpikir, menggunakan akal sesuai dengan fungsinya
agar mendapatkan pengetahuan yang benar. Selain itu dalam islam juga
memerintahkan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan yang di dapat.
Terdapat banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang
merupakan sumber ilmu pengetahuan, dimana belakangan manusia baru menemukan
kesesuaian dengan faktanya. Hal ini jelas menunjukkan Al-Qur’an sebagai wahyu
dari Allah, karena disaat manusia belum ada yang mengungkapkan ternyata Al-Qur’an
sejak 13 abad yang lalu telah mengungkapkannya.
Salah satu misal ayat dalam Al-Qur’an yang
menjelaskan tentang pengetahuan, ada pada Qs. Ar-Rahman 19-20, yang berbunyi:
Artinya: “dia
membiarkan dua laut mengalir yang (kemudia) keduanya bertemu. Diantaranya
keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”
Fenomena yang ditemukan di laut/ selat Gibraltar
bahwa terdapat dua air tawar dan asin yang tidak dapat menyatu ternyata sudah
ditulis dalam Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu.
Manusia pada abad ke 5 yang memiliki ilmu sains
masih sangat terbatas pasti mengetahui bahwa jika dua air disatukan akan saling
bercampur satu sama lain, namun Al-Quran yang tidak datang dari manusia
ternyata menunjukkan sebuah kebenaran yang baru dapat dibuktikan oleh para
ilmuwan sekitar 14 abad setelah diturunkan.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, Peristiwa yang terjadi
pada selat Gibraltar akhirnya dijelaskan dengan ilmu sain dan menggunakan
perlengkapan lebih modern. Meskipun ikatan kovalen pada air harusnya menyatukan
dua buah air yang bercampur, hal ini sedikit berbeda untuk air yang sedang
mengalir. Ahli kelautan modernen menemukan fakta bahwa dua buah air dengan
massa jenis yang berbeda yang bergerak akan cenderung untuk mempertahankan
keadaan masing-masing. Peristiwa air
laut di selat Gibraltar disebabkan oleh "Tegangan Permukaan" dari
masing-masing air. Tegangan permukaan mebuat seolah-olah ada sekat sangat tipis
di antara kedua permukaan air sehingga kedua air tidak bercampur sama sekali.[6]
Hal ini dijelaskan oleh seorang pakar kelautan dalam sebuah buku berjudul
Principles of Oceanography yang dikarang oleh Richard A Davis.
ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut
dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar
bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini
belumlah terjadi sebelum abad ke-20.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang berakal, merupakan
keunggulan tersendiri dibandingkan makhluk yang lainnya. Manusia mempunyai
fitrah, sehinggan rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang menjadi cikal bakal
lahirnya pemikiran manusia. Maka dari itulah proses pemikiran manusia dibagi
menjadi beberapa tingkatan yang berdasarkan mitos, rasional, dan ilmiah. Dan
yang terpenting bagaimana kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan ang selalu
proporsional dengan islam.
B. Saran
Kami selaku penyusun sangat menyadari masih jauh
dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembutan makalah
ini.Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, Kami selaku pembuat makalah ini
sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.Kami juga
mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya bagi pembaca.
C. Daftar
Pustaka
·
Tasmuji,
H. Cholil, dkk. IAD-ISD-IBD.
Surabaya: UINSA Press, 2016.
·
Ali,
Mohammad Daud. Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 1998.
·
Notowidagdo,
Rohiman. IBD Berdasarkan Al-Qur’an dan
Hadits. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996.
·
Suyudi,
Muhammad. Pendidikan Dalam Perspektif
Al-Qur’an. Yogyakarta: Mikraj, 2005.
[1] Amin Syukur, Pengantar Studi
Islam, (Semarang: CV. Bima Sejati, 2000), hlm. 1.
[2] Abdurrahman, Hafidz. Islam:
Politik dan Spiritual (singapore: lisan UI-Haq, 1998), 49.
[3] QS. Al-Qashash: 26
[4] H. Rohiman Notowidagdo, Ilmu
Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 1996), 26.
[5] Taqiyuddin an-nabhani, hakekat
berpikir. Terjemah (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003), 121.
[6] Richard A Davis, Principles pf
Oceanography. 1996.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar