kembali ke perjalanan. Perjalanan ditempuh kurang lebih 7 jam dari Jakarta.
Ketika kami bilang ke kernet bus kalau kami mau naik gunung ciremai, kami
disarankan untuk turun di cigugur. Oh iya, rencananya kami akan naik melewati
jalur palutungan, karena di gunung ciremai ada 3 jalur pendakian umum yaitu
Apuy, Linggarjati dan Palutungan. Jalur Palutungan adalah jalur yang paling
lama waktu tempuhnya, tetapi track perjalanannya lebih mudah dibanding kedua
jalur yang lain. Sekitar pukul 5 sore, Kami sampai di Kuningan tetapi bukan di
kotanya, melainkan dikecamatan Cigugur. Turun dari bus, untungnya kami
menemukan POM Bensin didekat perempatan dan kami langsung mencari masjid disana
untuk sholat jamak dhuhur dan ashar serta melepas lelah. Saat kami berjalan
kesana, seorang supir angkot dengan angkotnya mengikuti kami dan beliau pasti
sudah tahu dengan tas bawaan kami bahwa kami mau naik gunung, lalu beliau
menawarkan angkotnya untuk kami bertujuh menuju pos pendakian. Beliau rupanya
agak memaksa dan kamipun akhirnya ikut saja. Setelah selesai sholat, kami naik
angkot dengan kesepakatan bayaran sebesar Rp. 110ribu untuk kami bertujuh.
Sebenarnya itu mahal, tapi gak apa-apalah, yang penting ke gunung
ciremai^^.
Angkot tersebut berjalan membelah daratan kuningan yang menawarkan hawa
sejuk nan dingin, kami dibawa naik turun bukit ditemani dengan pemandangan sang
fajar yang mulai terbenam. Beberapa waktu kemudian, sampailah kami disebuah
desa yang bernama Cisantana. Kami makan dulu disebuah warung warga, dan melakukan
pelaporan disebuah kantor pos resort cigugur. Setelah itu, kami menuju kesebuah
masjid untuk menunaikan sholat maghrib dan isya’.
Perjalanan kami dimulai pukul pada pukul 19.48 malam hari dari masjid di
desa itu. Desa cisantana merupakan desa terakhir sebelum memasuki area gunung
ciremai jika melewati jalur palutungan. Beberapa menit kemudian, kami melewati
kandang ternak warga, dan perkebunan warga desa. Dan sebelum masuk area hutan,
terdapat sebuah pondok untuk beristirahat. Perjalanan kami malam itu untuk
menuju ke Pos 1 yang ditempuh selama 3 jam, itupun bisa kurang karena kami
sempat kesasar karena salah memilih jalan. Jadi untuk anda yang ingin ke
ciremai, ketika hendak menuju pos 1, jika bertemu 2 jalan yang satunya menanjak
dan yang satu lagi datar pilihlah jalan yang menanjak dan berbatu jangan pilih
yang datar karena jalannya akan menurun nantinya.
Pukul 22.45, kamipun sampai di pos 1, Pos Cigowong dengan ketinggian 1450
mdpl & puncak 5,6 km. Di pos ini kami mendirikan tenda untuk bermalam.
Fasilitas yang tersedia dipos ini yaitu adanya pondok yang bisa digunakan untuk
beristirahat, tetapi pondoknya tidak memiliki dinding di kiri kanannya sehingga
jika ingin tidur, dirikanlah tenda agar ridak kedinginan. Ada WC sekitar 5-6
buah dalam satu bangunan tetapi kondisinya sangat kotor dan dipenuhi dengan
coretan-coretan. Di pos 1 ini adalah satu-satunya tempat dimana kita dapat
menemukan sungai, selebihnya untuk pos-pos selanjutnya tidak ada sumber air
sehingga, disarankan untuk mengambil air terlebih dahulu untuk meperluan
memasak atau minum diatas sebelum melanjutkan perjalanan.
Kemudian paginya kami sarapan dan melanjutkan perjalanan sekitar jam
setengah 9 pagi. Perjalanan menuju pos 2 begitu melelahkan, karena track yang
terus menanjak. Sering-seringlah beristirahat ditempat yang agak lapang, tetapi
jangan terlalu lama. Sebelum mencapai pos 2, kami melewati pos bayangan yaitu
pos kuta, luasnya masih cukup untuk menampung sekitar 2-3 tenda. Lalu,
perjalanan kami lanjutkan, seteleh berjalan beberapa lama akhirnya kami sampai
di pos 2. Pos 2 bernama Pangguyangan Badak dengan ketinggian 1800 mdpl &
puncak 4,5 km. Di pos 2 tidak ada apa-apa, hanya lahan kosong.
Lalu kami melanjutkan perjalanan, track berbatu dan terus menanjak serta
tak jarang ada pohon tumbang yang menghalangi jalan. Setelah berjalan sekitar 1
jam, akhirnya kami sampai dipos 3 pada pukul 10.13, Pos Arban dengan ketinggian
2050 mdpl & puncak 3,6 km. Sama seperti sebelumnya, hanya merupakan lahan
kosong, kami meninggalkan dan menyembunyikan 2 botol air disini untuk
persediaan ketika turun nanti (*semoga gak diambil orang, hehe).
pos 2 & 3
Setelah itu perjalanan dilanjutkan, jalanan terus menanjak (*hampir frustasi gara-gara jalanannya yang menanjak terus -_-“). Kami beberapa kali berhenti berjalan untuk beristirahat sejenak. Pukul 10.50 kami tiba di Tanjakan Asoy, Pos ke 4 dengan ketinggian 2200 mdpl & puncak 2,9 km. Kami istirahat sejenak sambil berfoto ria dengan pohon besar yang telah tumbang, tak lupa juga kami menyembunyikan 1 botol air untuk persedian turun (*ssstt!!). Mengapa dinamakan Tanjakan Asoy??, mungkin karena track yang akan dilalui setelah pos ini sangat terjal, iya, memang tanjakannya lebih menantang dari tanjakan-tanjakan sebelumnya, kami lebih cepat lelah dan ngos-ngosan.
Pos selanjutnya yaitu Pos Pasanggrahan atau pos ke 5 dengan ketinggian 2450
mdpl & puncak 1,6 km. Kami sampai disini sekitar pukul 12.36. disini juga
kami tinggalkan 1 botol air. Dari pos ini, puncak ciremai sudah kelihatan.
Kemudian kami berjalan lagi untuk menuju ke pos berikutnya yaitu pos 6.
Sekitar jam 2 siang, kami sampai di Pos yang bernama Sanghyang Ropoh ini. Di
pos ini, tempatnya lebih kecil dari pos-pos sebelumnya. Kami tidak menyimpan
air disini. Vegetasi hutan mulai terbuka. Puncak ciremai semakin jelas
kelihatan.
Selanjutnya perjalanan berlanjut. Vegetasi pohon-pohon yang tinggi berganti
menjadi semak belukar. Disepanjang jalan kita dapat menemukan bunga edelweis,
saat kami kesana bunga edelweisnya sedang mekar sehingga menjadi pemandangan
yang indah. Kadang disisisi jalan, kami bertemu dengan hamparan padang edelweis
dimana semua bunganya yang berwarna kuning, mekar. Namun, ketika jalan disini
harus berhati-hati karena jalanan sudah berbatu dan sempit. Terkadang kita
temui jalan yang membentuk lorong sehingga harus hati-hati ketika melewatinya.
Di tambah lagi debu-debu yang dapat mengganggu pernapasan, bagi anda yang tidak
suka hal ini sebaiknya menyiapkan masker penutup mulut sebelum perjalanan.
gini nih tanjakannya,,,
Rasa frustasi semakin menjalar kedalam pikiran saya, tanjakan demi tanjakan
telah dilewati namun belum nampak ada pos. Sampai ketika, saya yang selalu
berjalan di bagian belakang menyusul kedepan, berharap pos selanjutnya ada
didepan mata. Tetapi, yang terpampang bukan tulisan pos, tapi pertemuan dua
jalur pendakian yaitu apuy dan palutungan. Jalur Apuy adalah jalur yang awalnya
dimulai dari kabupaten Majalengka.
Kamipun terus berjalan, menapak bebatuan –bebatuan itu. Rasa lelah kian
membara, tetapi semangat tak pernah padam, semangatlah yang menjadi penggerak
dalam setiap langkah kaki kami. Hingga akhirnya frustasi menjalar dari pikiran
keseluruh tubuhku. Kakiku kram, ketika hendak menginjak batu yang
sangat tinggi, mungkin salah urat kali ya. Rasanya dari pangkal paha bagian
atas sampai telapak kaki kanan saya seakan mati suri, tidak bisa digerakkan dan
ditekuk. Saat itu terbersit kata menyerah dalam pikiran. Untung saja ada ega,
yang tak jauh dibelakangku membantu memijat sehingga terasa lebih baik. Saat
itu, temanku yang lain masih jauh dibawah, sehingga kami berdua tidur-tiduran
di tanah sambil menunggu yang lain sampai diatas.
Kemudian beberapa saat ka’sein mendahului kami dan berjalan beberapa meter
keatas, kemudian dia berteriak, “Goa waleeet!!..” , kami semua yang ada dibawah
kegirangan dan dengan semangat langsung menapaki batu-batu yang bersusun itu
sampai kesebuah tanah lapang yang luas. Itulah Goa Walet, pos ke 7, pos
terakhir sebelum mencapai puncak. Akhirnya kami dapat beristirahat sejenak,
meskipun kami belum mendirikan tenda. Kami tiba sekitar pukul 4 sore. Setelah
melepas lelah, segera kami dirikan 2 tenda dan sholat jamak dhuhur dan ashar.
Sembari menunggu hingga malam tiba, kamipun berfoto-foto sambil menikmati
pemandangan matahari yang terbenam di ufuk barat.
kami saat menikmati sunset di goa walet,,
Diatas sana, garis horizon terlihat sangat jelas. Awan-awan kini berada
dibawah kami, daratan ini serasa seperti pulau. Pulau diatas awan. Tapi, kami
masih punya satu tujuan lagi, yaitu menuju puncak, puncak ciremaaaiii yeeey.Malampun
tiba, kami makan malam dan beranjak tidur karena suasana diluar cukup menembus
kulit & daging. Besok pagi kami bangun untuk sholat shubuh, ega dan abi
menuju ke puncak duluan untuk mengejar sunrise di puncak sedangkan saya dan
lainnya memilih untuk menikmati secangkir kopi dan energen panas disekitar goa
walet. Lalu sekitar pukul 5.30 kami menyusul kesana. Perjalanan ke puncak tidak
sampai 30 menit, barang-barang kami tinggal ditenda, hanya membawa sebotol air
dan beberapa snack. Dan Ketika hendak menaiki puncak, saya tak sengaja melihat
sajak-sajak yang terdapat dibalik sebuah pohon, isinya :
Aku rindu berdiri di ketinggian
Menunggu surya yang malu-malu
Mengintip dari balik awan
Menemani kabut
Menyongsong pagi
Bersandar pada tebing keabadian
Inilah kami ketika di puncak,,,
Pada hari itu juga, kamipun turun kembali ke desa cisantana dengan jumlah
anggota yang tetap dan selamat, dan kembali ke Jakarta dengan menumpang bus jurusan
Kuningan-Jakarta.
Ringkasan
pendakian :
Pom Bensin
–Perkampungan (pos palutungan) : 15 menit, 1100 mdpl
Perkampungan
- Pos 1 (Cigowong) : 3 jam, 1450 mdpl, puncak 5,6 km
Pos 1 – Pos 2
(Pangguyangan Badak) : 1,5 jam, 1800 mdpl, puncak 4,5 km
Pos 2- Pos 3
(Arban) : 45 menit, 2050 mdpl, puncak 3,6 km
Pos 3 – Pos 4
(Tanjakan Asoy) : 40 menit, 2200 mdpl, puncak 2,9 km
Pos 4 – Pos 5
(Pasanggrahan) : 1 jam 45 menit, 2450 mdpl, puncak 1,6 km
Pos 5 – Pos 6
(Sanghyang Ropoh) : 1 jam 30 menit, 2650 mdpl, puncak 1,1 km
Pos 6 – Pos 7
(Goa Walet) : 2 jam, 2950 mdpl, puncak 0,3 km
Pos 7 –
Puncak (Sunan Talaga) : 30 menit, 3056 mdpl
*perjalanan
naik : 11 jam, turun : 5 jam (naik-turun : via palutungan)
Rincian biaya
:
Tiket Busway
(Gelanggang remaja-Kampung Rambutan) : Rp. 3.500/orang
Bus jurusan
Jakarta-Kuningan PP : Rp. 50.000x2 = Rp. 100.000/orang
Carter angkot
ke desa cisantana (pergi) : Rp. 15.000/orang
Carter angkot
ke desa cisantana (pulang) : Rp. 10.000/orang
Angkot M06 :
kampung rambutan-bidaracina : Rp. 5.000/orang
Total : Rp.
133.500
*tips :
-jika
perjalanan dimulai dari Jakarta pada siang hari siapkan uang receh untuk para
pengamen (dan pemalak -,-‘)
-mintalah
kernet bus untuk turun di tempat yang paling dekat dengan desa cisantana
seperti perempatan dekat pom bensin
-carter
angkot biasanya 10ribu, (yang 15ribu karena kepaksa yah --“)
-di dekat pos
pelaporan, ada warung yang menyediakan mie rebus dan warung mie ayam (mantap
nih, yang ini kudu cobain hehe) sebagai tempat untuk mengisi perut sebelum memulai
perjalanan
-jika
berjalan dimalam hari, lihat sekitar karena di ciremai minim dengan petunjuk
jalan.
-ketika
menuju pos 1, hindari jalan yang semakin lama semakin menurun, jika terlanjur,
segera berbalik arah karena anda telah kesasar (^,”)
-persiapkan
mental dan fisik ketika berjalan menuju pos goa walet karena akan sangat
menguras tenaga dan batin (#_#)
-yang
terpenting manajemen air yang baik karena sedikitnya sumber air. (^_*)









