Sabtu, 14 April 2018

Makalah Ilmu Alam Dasar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai makhluk Tuhan yang berakal, manusia merupakan satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah swt, dengan segala kelebihan dibanding makhluk lain baik secara fisik maupun psikis, jasmani maupun rohani. Dari segi lahiriah ia mempunyai postur tubuh yang tegak dan anggota badan yang berfungsi ganda sedangkan dari segi rohaniah ia mempunyai akal untuk berfikir sekaligus nafsu untuk merasa, akal mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sedangkan untuk merasakan keindahan, keenakan serta merasakan yang lain. Keduanya tidak bekerja secara berpisah, melainkan saling memberi pertimbangan.[1]
Dengan adanya akal manusia akan dapat berpikir. Proses berpikir biasanya bertolak dari pengamatan indera atau observasi empirik. Proses itu dalam pikiran menghasilkan sejumlah pengertian dan sekaligus keputusan atau simpulan. Kegiatan berpikir itu sendiri sangat diperlukan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa tersebut. Kegiatan berpikir yang logis harus diikuti bahasa yang logis pula, agar informasi yang disampaikan penutur dapat tersampaikan secara logis pula.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari manusia yang berakal ?
2.      Bagaimana proses lahirnya pemikiran-pemikiran manusia?
3.      Ada beberapa tingkatan pemikiran pada manusia?
4.      Bagaimana ilmu perspektif islam?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui kehidupan manusia yang berakal.
2.      Mengetahui proses pemikiran-pemikiran oleh manusia.
3.      Mengetahui tingkatan-tingkatan pemikiran pada manusia.
4.      Mengetahui ilmu pengetahuan dari sudut pandang islam.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Manusia Sebagai Makhluk yang Berakal
Manusia adalah salah satu makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki karakteristik yang khas. Untuk memahami siapakah manusia itu? Maka, manusia harus dikaji sebagai obyek yang menyeluruh dan mendalam, yaitu dengan memahami potensi kehidupan yang mempengaruhi kehidupannya.
Sedangkan akal bagi kehidupan manusia, tidak termasuk dalam potensi kehidupan manusia. Sebab, manusia masih dapa hidup meskipun akalnya hilang. Seperti orang gila, atau anak kecil yang akalnya belum sempurna. Namun akal merupakan kelebihan yang diberikan pada manusia, yang dengan akal itulah mampu membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya.[2]
1.      Kebutuhan Jasmani
Kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan yang paling mendasar, merupakan hasil dari kerja struktur organ tubuh manusia. Apabila kebutuhan mendasar tersebut tidak terpenuhi, maka struktur organ tubuhnya akan mengalami kerusakan.
Jasmani yang sehat akan dicerminkan dengan penguasaan salah satu keterampilan yang dibutuhkan dalam mencari rizki, seperti yang disimbulkan dalam kisah Nabi Musa a.s ketika diambil menantu Nabi Syu’aib bahwa syarat yang harus ada adalah kuat fisiknya dan dapat dipercaya mentalnya. Firman Allah:
“salah seorang dari dua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambilah iya sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”[3]
2.      Naluri
Allah SWT menciptakan potensi kehidupan pada diri manusia berupa naluri. Naluri pada manusia terdiri dari:
a.       Naluri beragama (Gharizatut Taddayun)
b.      Naluri mempertahankan diri (Gharizatul baqa)
c.       Naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun nau’)
Kebutuhan Naluri (Al-Gharizah) jika tidak dipenuhi tidak sampai mengakibatkan kematian tetapi hanya menimbulkan perasaan gelisah saja pada diri manusia.
Naluri beragama (gharizatut taddayun). Penampakan mendorong manusia untuk mensucikan sesuatu yang mereka anggap sebagai wujud dari Sang Pencipta, maka dari itu dalam diri manusia ada kecenderungan untuk beribadah kepada Allah SWT, perasaan kurang, lemah dan membutuhkan.
Naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa). Penampakannya mendorong manusia untuk melaksanakan berbagai aktifitas dalam rangka melestarkan kelangsungan hidup. Berdasarkan hal ini maka manusia mempunyai rasa takut, keinginan menguasai, cinta pada bangsa dan lain-lain.
Naluri melangsungkan keturunan (gharizatun nau). Penampakannya akan mendorong manusia melangsungkan jenis manusia. Sebagai penampakan dan naluri ini, manusia memiliki kecenderungan seksual, rasa kebapakkan, rasa keibuan, cinta pada anak-anak, cinta pada oang tua, cinta pada orang lain dan lain-lain.
3.      Akal
Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang sempurna, hal ini dikarenakan manusia memiliki akal yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Dengan akal yang dimiliknya telah mengangkat kedudukan manusia sekaligus menjadikannya makhluk yang paling utama.
Dengan demikian, merupakan kesalahan besar apabila membahasa tentang akal kemudian berkesimpulan bahwa akal adalah organ berbentuk fisik yang berada dalam otak, kepala ataupun dada, dengan dalil bahwa hati ada di dada. Sebab fakta membuktikan bahwa hewan juga memiliki hati yang ada di dalam dada, namun tetap saja hewan tidak mempunyai akal. Sebagian besar kelakuan manusia dikuasi oleh akalnya, sedankan hewan oleh naluri (insting)nya. Dngan akalnya manusia menguasai alam (free mastery of nature) sehingga bisa hidup dimanapun, sedangkan hewan hanya pada tempat tertentu saja.[4]
 Oleh karena itu, akal merupakan kekuatan menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang sesuatu. Dan kekuatan ini bukan merupakan kerja satu organ tubuh manusia saja seperti otak, sehingga akal dianggap sama dengan otak.

B.     Proses Lahirnya Pemikiran Manusia
a.       Rasa Ingin Tahu Manusia
Dengan potensi akal yang dimiliknya maka manusia berusaha untuk memahami akan berbagai fenomena alam yang terjadi. Dan lahirnya pemikiran manusia itu berawal dari rasa ingin tahu yang dimiliki oleh manusia. Rasa ingin tahu pada manusia boleh dikatakan tidak akan pernah berhenti, karena selalu muncul keinginan untuk menambah pengetahuan. Hal ini juga menjadi perbedaan antara manusia dengan hewan, pengetahuan manusia makin hari makin bertambah luas dan berkembang, sedangkan hewan sampai pada batas tertentu. Manusia memiliki pembagian kerja yang matang, sedangkan pada hewan tidak.
Rasa ingin tahu itupula yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu demi menemukan jawaban atas berbagai persoalan yang muncul di dalam pikirannya. Upaya yang dilakukan manusia adakalanya berhasil namun juga bisa gagal. Akan tetapi kegagalan yang ada pada umumnya justru semakin memicu untuk melakukan lebih keras lagi sampai berhasil.

b.      Tahapan Pemikiran Manusia
Bagaimana sesungguhnya proses berfikir pada manusia? Jika kita telah lebih lanjut akan kita dapati bahwa untuk dapat berpikir membutuhkan beberapa komponen :
1)      Fakta, manusia membutuhkan fakta yang dijafikan objek berfikirnya.
2)      Indera, untuk dapat menyerap fakta-fakta yang akan dipikrkan. Seperti mata untuk melihat, peraba, pendengaran dan indera yang lain.
3)      Otak, merupakan organ yang berfungsi untuk menerjemahkan setiap fakta yang diserap.
4)      Informasi sebelumnya. Tanpa informasi, manusia tidak dapat memahami fakta yang sedang dihadapinya.



C.    Tingkatan Berpikir Pada Manusia[5]:
a.       Berpikir dangkal
Yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses berpikir yang hanya melihat sesuatu dan membuat kesimpulan dan berkenaan dengan sesuatu itu tanpa disertai pemahaman. Pemikiran ini diperoleh dengan cara sekedar mengindera fakta kedalam otak tanpa mengaitkan dengan informasi apapun. Juga tidak disertai dengan usaha untuk mencari informasi yang lain yang berkaitan dengannya.
b.      Berpikir Mendalam
Adalah tingkatan berpikir yang lebih tinggi dari berpikir dangkal, berupaya untuk lebih mendalam memahami fakta dan mendalam mengaitkan dengan informasi. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang untuk mencari informasi yang lebih banyak lagi.
c.       Berpikir Cemerlang
Adalah berpikir mendalam itu sendiri ditambah dengan segala sesuatu yang ada di sekitar fakta dan yang berkaitan dengan fakta untuk bisa sampai pada kesimpulan yang benar.

D.    Ilmu Pengetahuan Perspektif Islam
perintah membaca Al-Qur’an yang merupakan ayat pertama yang turun merupakan pintu awal mencari dan membahas ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an mengajak dan mengajarkan kepada seluruh manusia untuk senantiasa berpikir, menggunakan akal sesuai dengan fungsinya agar mendapatkan pengetahuan yang benar. Selain itu dalam islam juga memerintahkan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan yang di dapat.
Terdapat banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang merupakan sumber ilmu pengetahuan, dimana belakangan manusia baru menemukan kesesuaian dengan faktanya. Hal ini jelas menunjukkan Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah, karena disaat manusia belum ada yang mengungkapkan ternyata Al-Qur’an sejak 13 abad yang lalu telah mengungkapkannya.
Salah satu misal ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pengetahuan, ada pada Qs. Ar-Rahman 19-20, yang berbunyi:
Artinya: “dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudia) keduanya bertemu. Diantaranya keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”
Fenomena yang ditemukan di laut/ selat Gibraltar bahwa terdapat dua air tawar dan asin yang tidak dapat menyatu ternyata sudah ditulis dalam Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu.
Manusia pada abad ke 5 yang memiliki ilmu sains masih sangat terbatas pasti mengetahui bahwa jika dua air disatukan akan saling bercampur satu sama lain, namun Al-Quran yang tidak datang dari manusia ternyata menunjukkan sebuah kebenaran yang baru dapat dibuktikan oleh para ilmuwan sekitar 14 abad setelah diturunkan.  Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, Peristiwa yang terjadi pada selat Gibraltar akhirnya dijelaskan dengan ilmu sain dan menggunakan perlengkapan lebih modern. Meskipun ikatan kovalen pada air harusnya menyatukan dua buah air yang bercampur, hal ini sedikit berbeda untuk air yang sedang mengalir. Ahli kelautan modernen menemukan fakta bahwa dua buah air dengan massa jenis yang berbeda yang bergerak akan cenderung untuk mempertahankan keadaan masing-masing.  Peristiwa air laut di selat Gibraltar disebabkan oleh "Tegangan Permukaan" dari masing-masing air. Tegangan permukaan mebuat seolah-olah ada sekat sangat tipis di antara kedua permukaan air sehingga kedua air tidak bercampur sama sekali.[6] Hal ini dijelaskan oleh seorang pakar kelautan dalam sebuah buku berjudul Principles of Oceanography yang dikarang oleh Richard A Davis.
ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang berakal, merupakan keunggulan tersendiri dibandingkan makhluk yang lainnya. Manusia mempunyai fitrah, sehinggan rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang menjadi cikal bakal lahirnya pemikiran manusia. Maka dari itulah proses pemikiran manusia dibagi menjadi beberapa tingkatan yang berdasarkan mitos, rasional, dan ilmiah. Dan yang terpenting bagaimana kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan ang selalu proporsional dengan islam.
B.     Saran
Kami selaku penyusun sangat menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembutan makalah ini.Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, Kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya bagi pembaca.
C.    Daftar Pustaka
·         Tasmuji, H. Cholil, dkk. IAD-ISD-IBD. Surabaya: UINSA Press, 2016.
·         Ali, Mohammad Daud. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998.
·         Notowidagdo, Rohiman. IBD Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996.
·         Suyudi, Muhammad. Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an. Yogyakarta: Mikraj, 2005.





[1] Amin Syukur, Pengantar Studi Islam, (Semarang: CV. Bima Sejati, 2000), hlm. 1.
[2] Abdurrahman, Hafidz. Islam: Politik dan Spiritual (singapore: lisan UI-Haq, 1998), 49.
[3] QS. Al-Qashash: 26
[4] H. Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), 26.
[5] Taqiyuddin an-nabhani, hakekat berpikir. Terjemah (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003), 121.
[6] Richard A Davis, Principles pf Oceanography. 1996.